Setahun ESPAS, Bangkit  Dari Kekecewaan Pilpres Kembangkan Ekonomi Kreatifitas

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews – Kekecewaan tak harus menjadi bumerang untuk melakukan aktifitas. Namun kekecewaan itu menjadi penyemangat untuk lebih maju. Sudah menjadi kodrat manusia, Siapa pun mengalaminya, apakah kekecewaan itu hilang dalam waktu singkat atau hingga bermingggu minggu.

Kekecewaan ini pernah dialami oleh Relawan Prabowo Sandi yang menamakan dirinya ESPAS atau  Emak-Emak Semok Prabowo-Sandiaga. Hal tersebut diakui oleh Ketua Umum Dewi Herawati dan seluruh anggotanya saat itu.

Dewi menceritakan, betapa sedih, pedih yang dirasakan, selama dua minggu, mulai dari hasil pengumuman “quick count” ditambah lagi sidang MK. Hingga Prabowo memutuskan untuk rekonsiliasi dengan 01. Hal itu membuatnya merasa sudah kehilangan arah karena dinamika politiknya cepat berubah.

“Itu bikin emak-emak sakit, pedih banget. Sekarat gitu. Tapi akhirnya kita berpikir lagi. ESPAS tidak mau larut dalam kekecewaan. Ini buat apa, hanya gara-gara politik kita larut dalam kesedihan. Hanya menguras energi saja, “ujarnya pada liranews.com saat Milid 1 tahun ESPAS berdiri, dijalan Swadaya Raya, Duren Sawit Jakarta Timur.

Dari pemikiran itu, akhirnya dirinya  mencoba bangkit lagi, merenung, mungkin 02 itu ada alasan sendiri kenapa mau rekonsiliasi. Tapi dia berpikiran positif karena mungkin tujuan Prabowo baik. Apalagi Prabowo itu seorang tokoh yang sangat nasionalis.

Tap yang jelas, dia meminta pada anggota ESPAS untuk tidak dendam, benci pada lawan politik. Apalagi hingga menghujat pilihan mereka sendiri yakni Prabowo yang memilih untuk rekonsiliasi.

“Jadi,  kita tak mungkin diam. Saya ajak lagi anggota saya. Hayo emak-emak, kita bergerak. Kita kembangkan ekonomi, “katanya bersemangat.

Mengembangkan ekonomi, yakni, meningkatkan pendapatan emak-emak itu sendiri. Supaya emak-emak  ini memiliki kemampuan untuk berkreatifitas dalam bidang ekonomi.

Seperti membuktikan keahliannya karena kebanyakan emak-emak ESPAS pintar masak, sehingga hasilkan produk bermanfaat.

Tidak berlangsung lama, akhirnya Emak Emak Semok ini bisa membuktikan dengan beberapa produk yang dihasilkan seperti Abon Ikan Tongkol, Cake Singkong buatan Emak Farida. Ada Sabun Cuci Piring, Sambal, Gula Tebu yang bermanfaat untuk kesehatan dan lain-lain. Kreatifitas ini juga membuat Sekjen ESPAS Aderia Ines dan anggota semangat.

Selain itu, ESPAS membuat suatu gerakan seperti baksos, penyuluhan kesehatan untuk ibu-ibu, pemeriksaan  kesehatan gratis.

Gerakan ini hingga ke wilayah Sukabumi untuk memberdayakan masyarakat kecil, seperti kegiatan kerajinan kain perca, memproduksi sabun cuci piring, membatik, pelatihan batik Solo Raya dan lain-lain.

 

Menariknya, ESPAS Papua dan  Sorong minta bantuan agar diarahkan untuk koperasi, seperti yang sudah dilakukan Ibu Ana di Sorong. ESPAS Sorong merintis merangkul Ibu-Ibu nelayan untuk terjun di usaha pengeringan dan pengawetan ikan.

Yang jelas, pada gerakan ekonomi kreatif ini dibutuhkan kebersamaan. Bahkan dia tidak membedakan sebagai Ketum dan anggota. Intinya, silaturrahmi diutamakan. Hal inilah yang membuat emak-emak lainnya tertarik untuk bergabung di ESPAS. Selain silaturrahmi, anggotanya diberi kesempatan untuk kembangkan kreatifitas.

“Jadi, inilah pembuktian kita. ESPAS harus melangkah maju kedepan. Membantu program pemerintah. Membela kedaulatan rakyat dan cinta NKRI, “katanya.

Artinya, pemerintah itu harus mengakui keberadaan emak-emak, karena bisa membuktikan, menggerakkan kehidupan dengan tagline Indonesiaku. Emak-emak ini harus dirangkul oleh pemerintah dan  tidak boleh antipati pada gerakan emak-emak.

Dia berharap agar pemerintah  membuat suatu wadah emak-emak  khusus untuk ESPAS karena emak-emaknya banyak yang pintar masak. Jangan dibiarkan bergerak sendiri bak kehilangan induk.

“Kami bergerak bermodal semangat. Tetap vocal. Saya tidak mau emak-emak dijadikan sebagai ajang manfaat. Tapi giliran emak-emak butuh mereka, bapak-bapaknya nggak tahu kemana, hehe. “pungkas Dewi.

Sementara itu Kristiyanto mengakui gerakan ESPAS luar biasa, apalagi sudah mencapai HUT nya yang ke 1.  Itu menggambarkan semangat ESPAS untuk perubahan yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik. Artinya, kegiatan silaturrahmi yang seperti ini dibarengi dengan kreatifitas dalam bidang ekonomi.

Sudah saatnya memperkuat gerakan ESPAS melalui penguatan di bidang ekonomi. Bila dilihat, banyak hal yang harus bisa dilakukan, antara lain, membuat suatu wadah koperasi di kalangan emak-emak ESPAS. Itu yang membawa kebaikan dan keuntungan.

“Luar biasa. Pilihan Ibu Ketum, Ibu Dewi untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Pemberdayaan emak-emak dalam bidang ekonomi. Ini harus kita dukung, terutama oleh jajaran staf sendiri, ” ujar Dosen UBK pada liranews.com usai acara.

Kalau dikaitkan dengan politik pasca Pilpres, lanjut dia, politik itu harus dimaknai sebagai salah satu upaya untuk membangun kesadaran berbangsa dan bernegara. Membangun kesadaran hak dan kewajiban karena politik merupakan bagian dari kehidupan.

Makanya dia berharap, ESPAS  kedepan tambah semangat serta  lebih mampu memberikan manfaat buat anggota dan jaringannya agar  kehidupan emak-emas ESPAS menjadi lebih baik. Sebagai mitra ESPAS, dia meyakini, kepemimpinan Dewi Herawati dalam membawa ESPAS kedepan menuju arah yang lebih baik.

“Kekecewaan kemarin jadi hikmah. Kehidupan itu harus bergerak terus. tidak berhenti di urusan Pilpres 2019. Nah, ESPAS membuat langkah baru dalam bidang ekonomi,” tandas Kristiyanto.

Reporter: Abuzakir Ahmad

Sun Sep 8 , 2019
Probolinggo, LiraNews – Ramainya berita dugaan pungli yang terjadi di Kecamatan Tiris yang diangkat oleh beberapa media online dan beberapa LSM di Probolinggo, kini advokat kondang Asma Afif Ramadhan SH mulai menyoroti tentang Percepatan pendaftaran tanah sestimatis lengkap ( PTSL) yang akhir-akhir ini menjadi trend topic khususnya di wilayah Kabupaten […]